Pada ini adalah untuk memberikan waktu libur pada hari

            Pada
tahun 2017 ini, Mendikbud, Muhadjir Effendy telah menetapkan Peratutan Menteri
Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mengatur full day school atau sekolah 8 jam sehari selama 5 hari. Peratutan
Menteri tersebut ditetapkan pada tanggal 12 Juni 2017 dan mulai berlaku pada
tahun ajaran baru yang jatuh pada Juli 2017. Kebijakan ini banyak menuai
perdebatan di kalangan masyarakat. Banyak yang menilai bahwa kebijakan ini
hanya membebani siswa dalam belajar. Apakah penilaian masyarakat selama ini
benar? Atau justru sebalikya? Atas dasar pertimbangan apa kebijakan sekolah 8
jam sehari diberlakukan?

            Keuntungan
Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2017 ini adalah untuk memberikan waktu libur
pada hari Sabtu. Selain itu, belajar 8 jam sehari juga dapat meringankan tugas
orang tua dalam mengawasi anak-anaknya. “Dengan sistem full day school, anak didik akan terbangun karakternya. Tidak
menjadi ‘liar’ di luar sekolah ketika orang tua mereka belum pulang dari
kerja,” ujar Muhadjir Effendy. Hal ini menjadi alasan dasar diberlakukannya
Peraturan Menteri Nomor 23 Tahun 2017 tersebut. Alasan lainnya adalah belajar 8
jam sehari ini meringankan beban pekerjaan guru, dimana guru hanya bekerja 5
hari dalam seminggu.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Dari
8 jam tersebut, siswa tidak hanya belajar pasif di kelas saja, melainkan siswa
dituntut untuk belajar aktif dalam kegiatan kokurikuler. Hal ini menuntut siswa
agar pada level pendidikan dasar sampai SMP, siswa diperkuat pada pembentukan
karakter dan penanaman budi pekerti. Muhadjir Effendy mengatakan, “Bahkan saya
cenderung ingin mata pelajaran SD dan SMP dikurangi, tapi jumlah kegiatannya
semakin banyak. Jika guru merasa perlu mengunjumgi museum, perpustakaan, atau
pasar, boleh saja mata pelajaran hari itu ditangguhkan ke hari berikutnya agar
murid bisa fokus. Jadi sekolah harus bisa luwes, fleksibel, dan tidak kaku.” Jadi,
sebagian waktu dari 8 jam tersebut digunakan sekolah untuk memenuhi kebutuhan
siswanya dalam hal akademik maupun nonakademik secara luwes dan fleksibel.

            Namun,
belajar 8 jam dalam sehari ini juga memiliki dampak negatif terhadap siswa,
terutama siswa SD dan SMP. Mereka tidak dapat menikmati masa kecil mereka
dengan bermain, justru mereka harus mengisi waktu sehari-hari mereka dengan
belajar. Belum lagi jika mereka harus mengerjakan tugas pada hari Sabtu dan
Minggu.

            Kesimpulan
dari artikel ini adalah belajar 8 jam sehari harus tetap dilaksanakan. Hal ini
karena, dangan belajar pasif dan aktif dalam 8 jam sehari, siswa menjadi lebih
berkarakter dan berbudi pekerti, dimana hal ini sangat berguna untuk masa depan
siswa terutama di dunia kerja nanti.