Fabel penghibur hanya sebagai penarik pembaca agar mau membaca

Fabel merupakan cerita yang diperankan oleh
binatang yang bertujuan mengajarkan pembacanya memiliki sikap serta tindakan
yang berakhlak mulia. Fabel dapat mempengaruhi pembacanya, sifat persuasif
inilah yang menjadi kemampuan fabel untuk menanamkan nilai atau pesan yang
ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Simbolisasi binatang digunakan
agar pembaca terutama anak-anak dapat mengerti. (Musfiroh, 2008). Tokoh
binatang digunakan sebagai jembatan penyampai pesan. Aesop adalah orang yang  pertama kali menulis fabel, sekitar abad 6 SM.
Hal ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan keadilan yang terjadi pada masa itu
di Yunani kemudian ia menuliskan cerita dengan melakukan transformasi karakter
manusia menjadi tokoh binatang.

Cerita fabel memberikan nilai moral untuk anak,
mempererat hubungan anak dan orangtua, serta menurut John Gray dalam bukunya
Children are from Heaven, membacakan cerita adalah suatu cara yang baik sekali
untuk menyiapkan anak yang gelisah dan tidak tenang, agar tenang dan dapat
tidur dengan pulas. Serta membacakan cerita kepada anak sebelum tidur merupakan
pemberian paling penting yang dapat diberikan orangtua kepada seorang anak
(Gray, 2001)

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Menurut Farah (Farah, 2016) Cerita
dalam fabel yang dibuat oleh penulis mempunyai tujuan agar pembaca dapat
mengambil pelajaran dan nilai positif dari sebuah cerita selain tujuan untuk
menghibur para pembaca. Nilai moral pada fabel merupakan sebuah alegori kritis
yang memiliki substansi yaitu menggambarkan fenomena kehidupan sosial
masyarakat pada suatu masa..

Hollowell menyatakan enam segi positif dari sebuah dongeng
(fabel), yaitu: pertama, imajinasi berkembang dan rasa emosional terbentuk. Kedua, kebutuhan
ekspresi diri terakomodir.
Ketiga, moral anak terdidik. Keempat, rasa
humor anak tercipta. Kelima,
apresiasi sastra. Keenam,
cakrawala khayal anak
luas. (Agus DS, 2008)

Fabel memiliki manfaat yaitu
sebagai media penyampai
ajaran moral. Fabel
tidak hanya berfungsi sebagai media penghibur diri, melainkan terdapat nilai
luhur yang sengaja diselipkan oleh penulis fabel. Fungsi penghibur hanya
sebagai penarik pembaca agar mau membaca sebuah fabel.

Storytelling atau mendongeng adalah sebuah teknik
menyampaikan pesan-pesan tertentu lewat seni bercerita. Sang pendongeng
menyampaikan cerita dengan gaya, intonasi dan alat bantu yang menarik minat
pendengar. Sementara tujuan mendongeng menurut Priyono (2006:15), pertama, merangsang dan menumbuhkan imajinasi
dan daya fantasi anak secara wajar. Kedua mengembangkan daya penalaran sikap kritis serta
kreatif. Ketiga mempunyai
sikap kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa. Keempat dapat membedakan perbuatan yang baik
dan perlu ditiru dengan yang buruk dan tidak perlu dicontoh. Kelima menumbuhkan rasa hormat dan
mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak.

Pembelajaran politik seringkali dianggap
terlalu serius dan tegang sehingga anak-anak remaja enggan untuk mempelajari.
Kuntowijoyo dalam hal ini menyajikan narasi politik yang dapat dinikmati oleh
setiap kalangan. Ia menyajikannya dalam bentuk cerita pendek dengan menggunakan
binatang sebagai tokoh.

Kumcer (kumpulan cerpen) Kuntowijoyo kemudian
diberi judul “Mengusir Matahari: Fabel-Fabel Politik”, dalam pengantarnya ia
menceritakan kegelisahan seorang koleganya yaitu Syafi’i Anwar, cerpen hanya
dinikmati oleh pembaca cerpen, di sisi lain tulisan-tulisan politik hanya
dibaca oleh analis politik. Dari sinilah Kuntowijoyo mendapatkan ide untuk
membangun narasi politik yang dapat menjembatani penikmat sastra sekaligus
politik.

Mengusir Matahari: Fabel-Fabel Politik
merupakan karangan yang memuat kebijaksanaan dan sindiran politik.
Tentunya agak berbeda dengan kebanyakan fabel yang ada dalam kebudayaan Melayu
dan Jawa yang menjunjung moralitas dan etis.