BAB I PENDAHULUAN 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan usaha di zaman sekarang ini sudah sangat maju, terutama di sektor industri manufaktur. Kemajuan teknologi yang semakin hari semakin canggih dan berkembangnya sistem perekonomian yang maju ditandai dengan dicanangkannya program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) membuat sistem perekonomian sudah mulai mendunia dengan dapat menembus batasan-batasan wilayah antar negara sehingga membuat persaingan usaha semakin ketat. Setiap perusahaan harus mampu bersaing demi bisa tetap bertahan. Para pelaku usaha bukan saja hanya bersaing dengan pelaku usaha lainnya di dalam negeri, tetapi harus mampu bersaing juga dengan para pelaku usaha luar negeri lainnya.
Para pelaku usaha dituntut untuk selalu menghasilkan produk-produk baru dengan inovasi-inovasi terbaru serta bisa menghasilkan barang dan jasa yang bernilai serta berkualitas baik. Hal tersebut dilakukan supaya perusahaan tetap bisa bertahan melawan persaingan-persaingan dengan para pelaku usaha lainnya. Terutama bersaing dengan para pelaku usaha yang memiliki produk sejenis. Karena tujuan utama dari sebagian besar perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan atau laba yang besar dari hasil penjualan produk yang dihasilkan secara maksimal dan mempertahankannya serta berusaha untuk meningkatkan atau pun mengembangkan lagi usahanya untuk jangka waktu yang lama. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perusahaan memerlukan biaya untuk proses produksi. Biaya proses produksi adalah sejumlah biaya yang akan dikeluarkan selama terjadinya proses produksi. Menurut Indra Bastian dan Gatot Soepriyanto (2003:85) biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menyokong kegiatan operasi perusahaan secara rutin. Seperti belanja untuk barang dan jasa yaitu pengeluaran untuk semua pembayaran pemerintah dalam pertukaran barang dan jasa baik itu gaji atau upah tenaga kerja, pembelian atas barang dan jasa output, dll. Apabila terjadi masalah pada salah satu unsur biaya untuk proses produksi seperti kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tentunya akan mempengaruhi harga kebutuhan bahan baku, begitupun dengan kenaikan upah tenaga kerja maka akan mempengaruhi biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan. Tentu saja hal-hal tersebut dapat mempengaruhi persaingan dengan pelaku usaha yang memproduksi produk sejenis. Oleh karena itu perusahaan harus memiliki strategi untuk menekan biaya yang nanti akan dikeluarkannya dengan cara efektif dan efisien. Salah satunya adalah dengan menekan biaya operasi perusahaan. Dengan begitu maka perusahaan dapat menghasilkan produk yang sejenis dengan perusahaan lain, namun memiliki kualitas yang baik dan sesuai dengan selera konsumen dengan harga pasar yang wajar.
Penentuan harga pasar yang wajar tersebut dapat ditentukan oleh manajemen perusahaan setelah menghitung biaya produksi, dan menetapkan berapa laba yang ingin diperoleh. Manajemen perusahaan tidak boleh menganggap mudah penentapan biaya produksi, karena apabila perusahaan tidak tepat dalam menetapkan biaya produksi maka akan mempengaruhi keberlangsungan usaha, contohnya kerugian. Hal-hal lainnya yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah selera konsumen, persaingan, jumlah pesaing yang memasuki pasar, dan juga harga jual yang ditetapkan oleh pesaing.

Biaya produksi pada industri manufaktur memegang peranan yang sangat penting, hal tersebut dikarenakan jumlah dari biaya produksi relatif besar apabila dibandingkan dengan biaya-biaya yang lainnya, seperti biaya pemasaran dan biaya administrasi. Biaya produksi diantaranya terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Bahan baku merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah proses produksi di dalam perusahaan. Ketersedian bahan baku dalam waktu yang tepat haruslah diperhatikan supaya operasi perusahaan tetap berlangsung tanpa adanya hambatan dalam proses produksi. Apabila ketersediaan bahan baku nya tepat waktu maka proses produksi dapat menghasilkan produk yang diharapkan oleh perusahaan sesuai dengan selera konsumen, baik itu dalam segi jumlah maupun target waktu yang dibutuhkan untuk membuat suatu produk tersebut. Untuk mengefektifkan dan mengefisienkan kegiatan pengadaan material, jumlah item persediaan serta waktu pengadaannya harus sejalan dengan jadwal produksi. Persediaan tidak boleh terlalu banyak, juga tidak boleh terlalu sedikit. Sehubungan dengan itu, petugas pengelola persediaan material harus selalu bekerja sama dengan petugas yang menyusun jadwal produksi.
Selain itu, perusahaan harus mencari dan memilih secara teliti terlebih dahulu bahan-bahan yang akan dijadikan sebagai bahan baku yang memang memiliki kualitas baik. Hal tersebut dilakukan supaya produk yang dihasilkan nantinya memiliki kualitas yang baik pula. Dengan kualitas bahan baku yang baik, maka hal tersebut dapat mengurangi terjadinya kesalahan produksi, kerusakan produk, mapun proses produksi ulang yang dapat menyebabkan terjadinya pemborosan atau kelebihan biaya produksi. Sehingga manajemen perusahaan dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk realisasi laba yang ingin dicapai pada periode selanjutnya. Untuk menilai apakah bahan baku yang digunakan bermutu atau memiliki kualitas baik dapat dilakukan dengan pengetesan terhadap bahan baku tersebut, dan hasilnya dapat diketahui bahwa bahan baku tersebut berkualitas atau tidak sesuai dengan kriteria atau standar yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan.
Salah satu unsur lainnya yang dapat mempengaruhi proses produksi adalah tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan dengan keahlian atau kemampuan berbeda-beda yang membantu perusahaan dalam menjalankan proses usaha dan mencapai tujuan yang ingin dicapai. Tenaga kerja dalam sebuah perusahaan merupakan unsur yang paling dominan. Karena tanpa adanya tenaga kerja, tentu saja suatu perusahaan tidak akan dapat berjalan. Tenaga kerja dipengaruhi oleh jam kerja langsung. Pemanfaatan jam tenaga kerja langsung harus diperhatikan dan diupayakan untuk menciptakan kondisi kerja yang efektif dan efisien, terutama jika dihubungkan dengan tenaga kerja langsung terlibat dalam proses produksi (Maudyana, 2007: 2). Apabila penggunaan jam kerja dalam proses produksi kurang efektif, maka dapat menyebabkan ketidakefektifan terhadap hasil atau target volume produksi maupun terhadap biaya tenaga kerja langsung yaitu upah yang akan dikeluarkan oleh perusahaan.
Kenaikan upah tenaga kerja dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kenaikan biaya produksi. Maka dari itu sangatlah penting bagi perusahaan untuk memperhatikan tenaga kerja supaya berfungsi sesuai standar nya secara efektif dan efisien. Dengan sudah berfungsinya efisiensi dalam bahan baku dan tenaga kerja langsung dapat mempengaruhi biaya produksi menjadi lebih efisiensi pula. Karena besarnya bahan baku dan tenaga kerja langsung berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya biaya produksi.

Beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan mengenai biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung terhadap produksi memiliki hasil yang bervariasi. Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sulis Rahmawati (2014) dengan judul Pengaruh Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung, Terhadap Efisiensi Biaya Produksi Kapal Niaga Pada PT. Dok Dan Perkapalan Surabaya (Persero). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa biaya bahan baku tidak memiliki pengaruh terhadap efisiensi biaya produksi. Sedangkan biaya tenaga kerja langsung memiliki pengaruh terhadap efisiensi biaya produksi. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung memiliki pengaruh terhadap efisiensi biaya produksi. Penelitian yang dilakukan oleh Irma Amalia Novitri (2015) dengan judul Pengaruh Tenaga Kerja Dan Bahan Baku Terhadap Peningkatan Hasil Produksi Pada Industri Tempe (Studi kasus di Desa Bojongsari Kabupaten Indramayu). Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi tempe. Bahan baku pun memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produksi tempe. Dan secara bersama-sama bahwa tenaga kerja dan bahan baku berpengaruh secara signifikan terhadap produksi tempe. Penelitian yang dilakukan oleh Tukasno dalm Artikel Jurnal Dinamika Volume 3 No. 2 Desember 2017 dengan judul Pengaruh Biaya Bahan Baku Dan Biaya Tenaga Kerja Terhadap Volume Produksi Tungku Di Desa Braja Mulya Kecamatan Braja Selebah. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa biaya bahan baku berpengaruh terhadap volume produksi. Begitu juga dengan biaya tenaga kerja yang berpengaruh terhadap volume produksi. Dan secara bersama-sama bahwa biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja berpengaruh terhadap volume produksi.
Dari hasil penelitian sebelumnya, terdapat perbedaan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu. Adapun perbedaan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini akan dilakukan di perusahaan makanan dan minuman pada periode tahun dimana perusahaan manufaktur mulai mengalami penurunan pertumbuhan yang dimulai pada tahun 2012, serta industri makanan dan minuman yang berjalan lambat pada awal tahun 2013. Penelitian ini pun dilakukan di perusahaan yang berbeda dengan penelitian terdahulu.

Industri manufaktur adalah sekelompok perusahaan yang aktivitasnya mengolah atau mengubah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi yang diproduksi dalam jumlah besar dengan tujuan untuk di jual ke masyarakat supaya mendapatkan keuntungan atau laba. Istilah manufaktur dapat digunakan mulai dari pengolahan yang sifatnya sederhana maupun pengolahan yang sudah menggunakan teknologi tinggi. Industri manufaktur di Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan dalam beberapa tahun terkahir dimulai sejak tahun 2012. Salah satu faktor pemicunya adalah kenaikan upah tenaga kerja, sehingga biaya produksi industri dalam negeri menjadi lebih tinggi dan tidak kompetitif dibandingkan dengan negara lain. Karena biaya produksi industri dalam negeri menjadi lebih tinggi maka mengakibatkan hasil produksi menjadi lebih mahal. Indeks manufaktur nasional berada dalam status resesi pada Desember 2014 terlihat dari indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) dari 48 pada November menjadi 47,6. Pemicunya adalah turunnya order domestik yang mengikis produksi. Selain itu penyerapan tenaga kerja yang turut melorot serta kenaikan harga bahan bakar minyak menyebabkan biaya produksi membengkak. Salah satu yang termasuk dalam industri manufaktur adalah perusahaan makanan dan minuman. Pada awal tahun 2013, pertumbuhan industri makanan minuman berjalan sangat lambat. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan industri makanan dan minuman di awal tahun tersebut lebih lambat. Pasalnya, pelaku industri harus menanggung tambahan beban akibat adanya kenaikan ongkos produksi seperti kenaikan upah buruh, tarif listrik, dan harga gas dalam waktu yang hampir bersamaan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang kuartal I-2013, industri makanan dan minuman hanya tumbuh 1,75%. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, industri ini mampu tumbuh 8%. Dari sisi volume produksi, pada kuartal I-2013, industri makanan hanya tumbuh 0,3% dan industri minuman 0,08%. (www.kemenperin.go.id)
Maka dapat dilihat dari masalah di atas bahwa faktor-faktor seperti kenaikan bahan baku dan kenaikan upah tenaga kerja dapat mempengaruhi pada biaya produksi sebuah perusahaan. Berdasarkan dari uraian masalah di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Biaya Bahan Baku Dan Biaya Tenaga Kerja Langsung Terhadap Biaya Produksi (Studi Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Periode 2012-2016)”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah adanya kenaikan biaya produksi pada industri manufaktur di Indonesia sehingga terjadi penurunan pertumbuhan dikarenakan adanya kenaikan upah tenaga kerja dan lambatnya pertumbuhan industri manufaktur sektor makanan dan minuman karena adanya kenaikan ongkos produksi seperti kenaikan upah buruh, tarif listrik, dan harga gas dalam waktu yang hampir bersamaan. Maka diajukan sejumlah pertanyaan penelitian sebagai berikut:
Apakah biaya bahan baku memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya produksi?
Apakah biaya tenaga kerja langsung memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya produksi?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Pengaruh biaya bahan baku yang signifikan terhadap biaya produksi.

Pengaruh biaya tenaga kerja langsung yang signifikan terhadap biaya produksi.

1.4. Manfaat Penelitian
Ada pun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini antara lain:
1.4.1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori dan pengembangan ilmu di bidang akuntansi terutama dalam kajian mengenai biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang memiliki pengaruh terhadap biaya produksi.
1.4.2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dengan menambah pengetahuan dan memperluas wawasan ilmu dalam kajian yang diteliti yaitu biaya produksi, serta dapat menjadi bekal untuk terjun langsung di masayarakat.

b. Bagi Perusahaan
Sebagai sumber untuk menambah informasi dan menjadi bahan pertimbangan serta masukan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan ataupun kebijakan yang akan diambil khususnya mengenai biaya produksi.

c. Bagi Pihak Lain
Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan manfaat sebagai bahan referensi maupun sumber informasi untuk penelitian selanjutnya mengenai masalah serupa di masa yang akan datang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teoritis
2.1.1 Konsep Biaya
Setiap aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam proses produksi, baik itu yang berupa barang maupun jasa akan memunculkan suatu pengorbanan untuk pengadaan seluruh sumber daya yang dibutuhkan supaya memperoleh manfaat. Pengorbanan tersebut yang biasa dikenal dengan istilah biaya. Konsep dari biaya merupakan konsep yang sangat penting karena biaya dapat dijadikan sebagai salah satu faktor untuk menentukan besar atau kecilnya laba yang akan diperoleh oleh perusahaan disamping komponen yang lainnya, seperti pendapatan. Informasi biaya dapat juga digunakan sebagai proses perencanaan, pengendalian, serta pembuatan keputusan oleh pihak manajemen atau perusahaan.
Menurut Henry Simamora (1999: 36) biaya atau cost adalah kas dan nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada saat ini atau dimasa mendatang bagi organisasi. Menurut Mulyadi (2007:8) biaya dalam arti luas adalah suatu pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Biaya juga didefinisikan sebagai pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan organisasi, termasuk harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan (Sumarsan, 2013). Dari ketiga definisi di atas dapat di simpulkan bahwa biaya adalah kas dan nilai setara kas atau pengorbanan ekonomis yang diukur dalam satuan uang untuk memperoleh manfaat dan tujuan tertentu bagi perusahaan. Dapat diketahui unsur-unsur pokok dalam biaya adalah :
Merupakan pengorbanan sumber ekonomi setara kas
Diukur dengan satuan uang
Yang telah terjadi atau yang akan terjadi
Untuk tujuan  organisasi baik sekarang atau masa depan
Dalam industri manufaktur, biaya terdiri dari dua kelompok menurut Matz dan Usry (1990 : 24-26) :
Biaya Pabrik
Biaya pabrik ini biasa disebut juga dengan biaya produksi, yang terdiri dari tiga unsur biaya yaitu bahan langsung, buruh langsung, dan overhead langsung. Bahan langsung dan buruh langsung dapat digabungkan ke dalam golongan biaya utama (prime cost). Buruh langsung dan overhead pabrik dapat digabungkan ke dalam golongan biaya konversi (convertion cost), yang mencerminkan biaya pengubahan bahan langsung menjadi barang jadi.
Biaya Komersial
Biaya komersial ini dapat disebut juga dengan biaya non manufaktur yang dibagi menjadi dua golongan besar yaitu biaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum. Biaya pemasaran mencakup biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan pemasaran produk, seperti biaya iklan, biaya promosi, dan lain-lain. Sedangkan biaya administrasi dan umum meliputi biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk, seperti biaya gaji karyawan, biaya foto copy, dan lain-lain.

2.1.2 Biaya Produksi
Kegiatan utama dari industri manufaktur yaitu untuk menghasilkan suatu barang atau produk melalui kegiatan produksi dengan cara menyatukan beberapa faktor-faktor produksi seperti bahan mentah, tenaga kerja, modal, dan juga teknologi. Kegiatan produksi itu sendiri yaitu mengolah bahan mentah maupun bahan setengah jadi menjadi bahan jadi sehingga dapat memberikan manfaat dan nilai jual. Untuk melakukan kegiatan produksi, maka perusahaan memerlukan pengorbanan, baik itu dalam bentuk tenaga atau bentuk pengorbanan lainnya. Apabila pengorbanan tersebut dapat diukur dengan satuan uang, maka dapat disebut dengan biaya. Menurut Mulyadi (2012: 13) biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Sedangkan Menurut Hansen dan Mowen (2009: 47) biaya produksi adalah biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa. Dan menurut Sutrisno (2012), biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk selesai. Biaya ini dikeluarkan oleh departemen produksi yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.

Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya produksi adalah suatu pengorbanan yang dapat diukur dengan satuan uang atau semua biaya yang digunakan dalam pembuatan suatu produk untuk dijual oleh perusahaan.

2.1.2.1 Komponen Biaya Produksi
Menurut Ahman (2004 : 162) biaya produksi didasarkan dari komponen-komponen yang menyusunnya yaitu meliputi unsur-unsur sebagai berikut :
Bahan baku atau bahan dasar, termasuk bahan setengah jadi
Bahan-bahan pembantu atau bahan penolong
Upah tenaga kerja tidak terdidik dan tenaga kerja terdidik
Penyusutan peralatan produksi
Bunga modal
Sewa (gedung atau peralatan yang lain)
Biaya pemasaran, seperti biaya penelitian dan analisis pasar produk, biaya angkutan dan pengiriman, dan biaya reklame atau iklan
Pajak perusahaan.

2.1.2.2 Jenis-Jenis Biaya Produksi
Biaya produksi merupakan sebuah langkah untuk dapat menetapkan harga pokok produksi yang akan digunakan untuk menghitung harga jual sebuah produk. Menurut Sukirno (2005 : 22), biaya produksi dalam perusahaan dibagi menjadi :
1. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan dalam periode waktu tertentu yang jumlahnya tetap untuk memperoleh faktor produksi (input) dan tidak bergantung pada jumlah produk (output) yang dihasilkan. Misalnya biaya administrasi, penyusutan mesin, sewa gedung, pajak perusahaan, dan bunga pinjaman bank. Biaya tetap dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut :
a) Biaya tetap total (total fixed cost), meruapakan jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan sejumlah faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya. Misalnya pembelian mesin dan mendirikan bangunan pabrik.

b) Biaya tetap rata-rata (average fixed cost), merupakan biaya tetap yang dibebankan kepada satu unit output.

2. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi (input) yang jumalahnya dapat diubah. Dalam hal ini, apabila semakin banyaknya jumlah produk yang dihasilkan, maka semakin besar pula jumlah biaya variabelnya. Misalnya biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan bahan pembantu. Biaya variabel dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut :
a) Biaya variabel total (total variable cost), merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor produksi yang bersifat variabel. Misalnya biaya tenaga kerja, pembelian bahan baku, dan bahan penolong.

b) Biaya variabel rata-rata (average variable cost), merupakan biaya variabel yang dibebankan kepada setiap unit output.

3. Biaya Total (Total Cost)
Biaya total merupakan keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan dan digunakan untuk menghasilkan sejumlah output tertentu baik itu yang bersifat tetap maupun variabel.

4. Biaya Rata-Rata (Average Cost)
Biaya rata-rata merupakan biaya diproduksi yang diperhitungkan untuk setiap unit output.

5. Biaya Marjinal (Marginal Cost)
Biaya marjinal merupakan kenaikan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sebagai akibat dari kenaikan satu unit output.

2.1.2.3 Tujuan Penentuan Biaya Produksi
Tujuan utama sebuah perusahaan pada dasarnya sama, yaitu untuk memperoleh laba atau pendapatan dan membandingkannya dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Untuk mengetahui besarnya laba yang diperoleh oleh perusahaan, maka diperlukan suatu ukuran yang baik dari pendapatan maupun pengorbanan yang telah dikeluarkan. Berikut ini adalah beberapa tujuan dari penentuan biaya produksi :
1. Untuk menetapkan jumlah biaya produksi secara tepat
Bukti transaksi yang berkaitan dengan pengeluaran biaya dikumpulkan dan digunakan sebagai dasar pencatatan atas terjadinya biaya. Pengumpulan bukti, pencatatan dan penentuan atas terjadinya biaya produksi yang tepat akan menghasilkan penetapan biaya produksi yang tepat.

2. Membantu manajemen mengadakan pengendalian biaya yang tepat
Adanya pengumpulan bukti transaksi, pencatatan dan penentuan biaya produksi yang tepat akan memudahkan pihak manajemen melakukan pengawasan dan pengendalian atas biaya yang keluar untuk melakukan produksi.

3. Membantu manajemen dalam pengambilan keputusan jangka pendek
Pengambilan keputusan yang berkaitan dengan biaya produksi meliputi pembelian bahan baku, pembelian mesin atau alat produksi, dan menentukan harga jual dan untuk menentukan keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan.

2.1.3 Biaya Bahan Baku
Dalam sebuah perusahaan manufaktur, bahan baku merupakan faktor utama dalam pelaksanaan suatu proses produksi di sebuah perusahaan. Lancarnya suatu proses produksi tersebut tentu saja dipengaruhi oleh ketersediannya bahan baku dalam kuantitas dan ukuran yang sesuai dengan porsi kebutuhan dari perusahaan yang memproduksi suatu produk tersebut. Menurut Menurut Hanggana (2006:11) yang dimaksud dengan bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk membuat sebuah produk. Biaya bahan baku menurut Hanggana (2006:11) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan biaya bahan baku adalah seluruh biaya yang digunakan untuk membuat suatu barang jadi. Bahan pasti akan menempel menjadi satu dengan barang jadi. Sedangkan menurut Narifin (2007:202) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan biaya bahan baku adalah biaya yang digunakan oleh sebuah organisasi untuk mendapatkan bahan utama atau bahan pokok dan merupakan komponen utama sebuah produk. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat suatu produk melalui proses produksi dan merupakan komponen utama atau bahan pokok nya.
2.1.3.1 Perolehan dan Pengunaan Bahan Baku
Proses produksi dan kebutuhan bahan baku bervariasi sesuai dengan ukuran dan jenis industri dari perusahaan, pembelian dan penggunaan bahan baku biasanya meliputi langkah-langkah :
Untuk setiap produk atau variasi produk, insinyur menentukan rute (routing) untuk setiap produk, yang merupakan urtan orprai yang dilakukan, dan sekaligus menetapkan daftar bahan baku yang diperlukan, yang merupakan daftar kebutuhan bahan baku untuk setiap langkah dalam urutan operasi tersebut.

Anggaran produksi (production budget) menyedikan rencana utama, darimana rincian mengenai bahan baku dikembangkan.

Bukti permintaan pembelian atau (purchase requisition) menginformasikan agen pembelian mengenai jumlah dan jenis bahan baku yang dibutuhkan.

Pesanan pembelian (purchase order) merupakan kontrak atas jumlah yang harus dikirimkan.

Laporan penerimaan (receiving report) mengesahkan jumlah yang diterima, dan mungkin juga melaporkan hasil pemeriksaan dan pengujian mutu.

Bukti permintaan bahan baku (material requisition) memberiakan wewenang bagi gudang untuk mengirimkan jenis dan jumlah tertentu dari bahan baku ke departemen tertentu pada waktu tertentu.

Kartu catatan bahan baku (material record card) mencatat setiap penerimaan dan pengeluaran dari setiap jenis bahan baku dan berguna sebagai catatan persediaan perpetual.

2.1.3.2 Perencanaan dan Pengendalian Bahan Baku
Perencanaan dan pengendalian biaya bahan baku ini merupakan salah satu masalah penting yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Karena apabila perencanaan dan pengendalian sudah dilakukan dengan baik, maka perusahaan dapat dapat menghindari kerugian. Pada dasarnya, perencanaan bahan baku dapat mengoptimalkan biaya yang akan dikeluarkan, karena kelancaran arus dan harga bahan baku berpengaruh secara langsung terhadap biaya produksi.

Pengendalian bahan baku dilakukan melalui pengaturan fungsional, pembebanan tanggung jawab, dan bukti-bukti dokumenter. Hal tersebut dimulai dari persetujuan anggaran pejualan dan produksi serta dari penyelesaian produk yang siap untuk dijual dan pengiriman produk ke gudang atau pelanggan. Tujuan utama dari pengendalian bahan baku adalah kemampuan untuk melakukan pemesanan pada waktu yang sesuai dengan sumber terbaik untuk memperoleh jumlah yang tepat pada harga dan kualitas yang tepat. Maka, dalam menentukan banyak atau tidaknya bahan baku yang akan dibeli oleh perusahaan pada suatu periode waktu tergantung kepada seberapa banyak bahan baku yang dibutuhkan untuk keperluan proses produksi tersebut.

2.1.3.3 Metode Penghitungan Biaya Bahan Baku
Dalam satu periode akuntansi sering kali terjadi fluktuasi harga, maka harga beli bahan baku juga berbeda dari pembelian yang satu dengan pembelian yang lain. Hal ini dapat menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan berbagai macam metode harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi (materials costing method), diantaranya adalah:
Metode identifikasi khusus.

Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi tanda pada harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap pembelian bahan baku yang harga per satuannya berbeda dengan harga per satuan bahan baku yang sudah ada di gudang harus dipisahkan penyimpanannya dan diberi tanda pada harga berapa bahan tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap-tiap jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga setiap pemakaian bahan baku dapat diketahui harga pokok per satuannya secara tepat.

Metode masuk pertama keluar pertama (FIFO)
Metode masuk pertama, keluar pertama menentukan biaya bahan baku dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang dipergunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali dipakai. Perlu ditekanakan disini bahwa untuk menentukan biaya bahan baku, anggapan aliran biaya tidak harus sesuai dengan aliran fisik bahan baku dalam produksi.

Metode masuk terakhir keluar pertama (LIFO)
Metode masuk terakhir , keluar pertama menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dengan anggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga pokok bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi.

Metode rata-rata bergerak (Moving Average Method)
Dalam metode ini, persediaan bahan baku yang ada di gudang dihitung harga pokok rata – ratanya, dengan cara membagi total harga pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga pokok rata – rata persediaan yang ada di gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata – rata per satuan yang baru. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata – rata per satuan bahan baku yang ada di gudang. Metode ini disebut juga dengan metode rata – rata tertimbang, karena dalam menghitung rata – rata harga pokok persediaan bahan baku, metode ini menggunakan kuantitas bahan baku sebagai angka penimbangnya.

Metode biaya standar
Dalam metode ini, bahan baku yang dibeli dicatat dalam kartu persediaan sebagai harga standar yaitu harga taksiran yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Harga standar merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran tertentu. Pada saat dipakai, bahan baku dibebankan kepada produk pada harga standar tersebut. Jurnal yang dibuat pada saat pembelian bahan baku adalah sebagai berikut:
Persediaan bahan baku                                             xx
Selisih harga                                                                               xx
a) Untuk mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar :
Selisih harga                                                               xx
Utang dagang                                                                             xx
b) Untuk mencatat harga sesungguhnya bahan baku yang dibeli :
Selisih harga standar dengan harga sesungguhnya tampak dalam rekening selisih harga setiap akhir bulan saldo rekening selisih harga dibiarkan tetap terbuka, dan disajikan dalam laporan keuangan bulanan. Hal ini dilakukan karena saldo rekening selisih harga setiap akhir bulan mungkin saling mengkompensasi, sehingga hanya pada akhir tahun saja saldo rekening selisih harga perlu ditutup ke rekening lain.

Pemakaian bahan baku dalam produksi dicatat sebesar hasil kali kuantitas bahan baku sesungguhnya yang dipakai dengan harga standarnya dan dijurnal sebagai berikut:
Bahan dalam proses – biaya bahan baku                 xx
Persediaan bahan baku                                                              xx
Perlakuan terhadap saldo rekening selisih harga pada akhir tahun tergantung pada mataerial tidaknya saldo tersebut. Jika material, saldo rekening selisih harga ditutup ke rekening – rekening persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, persediaan produk jadi, dan harga pokok penjualan, atas dasar perbandingan unsur biaya bahan baku yang terkandung di dalam tiap rekening tersebut, atau atas dasar perbandingan satuan ekuivalensinya. Jika saldo tekening selisih harga tidak material, saldo tersebut langsung ditutup ke rekening hatga pokok penjualan. Jurnal yang dibuat pada saat pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut:
Barang dalam proses – biaya bahan baku                xx
Persediaan bahan baku                                                              xx
Metode rata – rata harga pokok bahan baku pada akhir bulan
Dalam metode ini, pada setiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga pokok rata – rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok rata – rata satuan ini kemudian digunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi dalam bulan berikutnya
2.1.3.4 Metode Pencatatan Biaya Bahan Baku
Ada dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi yaitu metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan metode persediaan fisik (fisycal inventory method). Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan. Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan bahan baku dari pembelian saja yang dicatatat, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk mengetahui beberapa biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi, harus dilakukan dengan cara menghitung sisa persediaan bahan baku yang masih ada di gudang pada akhir periode akuntansi. Harga pokok persediaan awal bahan baku ditambah dengan harga pokok bahan baku yang dibeli selama periode dikurangi dengan harga pokok persediaan bahan baku yang masih ada pada akhir periode merupakan biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi selama periode yang bersangkutan.

Metode persediaan fisik cocok digunakan dalam penentuan biaya bahan baku dalam perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok proses. Metode mutasi persediaan cocok digunakan dalam perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.

2.1.4 Biaya Tenaga Kerja Langsung
Dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat, tujuan pencapaian perusahaan sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusia atau biasa disebut dengan tenaga kerja. Tenaga kerja dalam suatu perusahaan dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Perbedaan antara tenaga kerja langsung dengan tenaga kerja tidak langsung yaitu tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses produksi atau proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Sedangkan tenaga kerja tidak langsung merupakan tenaga kerja yang tidak terlibat secara langsung dalam proses produksi.
Definisi tenaga kerja menurut Mulyadi (1999:343) merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk. Dan definisi tenaga kerja langsung menurut Usry dan Hammer (1996:39) adalah karyawan yang dikerahkan untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi, biaya untuk ini meliputi gaji para karyawan yang dapat dibebankan kepada produk tertentu. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tenaga kerja langsung memiliki peran dan andil dalam kelangsungan hidup perusahaan dengan mengorbankan seluruh tenaga dan pikirannya untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Oleh karena itu sudah seharusnya perusahaan mempertimbangkan kesejahteraan para tenaga kerja dengan cara mengeluarkan atau mengorbankan biaya tenaga kerja sebagai balas jasa atas apa yang telah diberikan atau dikorbankan olehnya.
Menurut Ibnu Subriyanto dan Bambang Suripto (1993: 42) Biaya tenaga kerja langsung adalah kompensasi yang memberikan kepada semua karyawan yang terlibat langsung dalam pengolahan produk, mudah ditelusuri ke produk tertentu dan merupakan biaya yang besar atas produk yang dihasilkan. Dari definisi biaya tenaga kerja langsung di atas dapat disimpulkan bahwa biaya tenaga kerja langsung adalah biaya atau pengorbanan yang telah atau akan dikeluarkan oleh perusahaan sebagai balas jasa atas jasa-jasa yang telah diberikan oleh para tenaga kerja dalam proses produksi perusahaan.
2.1.5 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Ikhtisar Penelitian Terdahulu
No Peneliti/Judul Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
1.

2.

3
4.

5.

6.

7.

8.
Rani Rahman dan Yogi Daud Yusup Suseno/Pengaruh Biaya Tenaga Kerja Langsung Terhadap Volume Produksi (Studi Kasus Pada Perusahaan Galunggung Raya Block Tasikmalaya) (2008)
Efi Herawati / Analisis Pengaruh Faktor Modal, Bahan Baku, Tenaga Kerja Dan Mesin Terhadap Produksi Glycerine Pada PT. Flora Sawita Chemindo Medan (2008)
Tukasno/ Pengaruh Biaya Bahan Baku Dan Biaya Tenaga Kerja Terhadap Volume Produksi Tungku Di Desa Braja Mulya Kecamatan Braja Selebah (2017)
Nawang Putri Sendang Sisela/ Pengaruh Biaya Bahan Baku Dan Biaya Tenaga Kerja Langsung Terhadap Hasil Produksi Di Sentra Industri Tenun ATBM Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan (2011)
Siti Amanah/ Analisis Pengaruh Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung Dan Biaya Overhead Pabrik Terhadap Penjulan Produk Di CV Surya Pustaka (2017)
I Komang Suartawan dan I B Purbadharmaja/ Pengaruh Modal Dan Bahan Baku Terhadap Pendapatan Melalui Produksi Pengrajin Patung Kayu Di Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar (2017)
Sulis Rahmawati/ Pengaruh Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja Langsung
Terhadap Efisiensi Biaya Produksi Kapal Niaga
Pada PT. Dok Dan Perkapalan Surabaya (PERSERO) (2014) Biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan oleh Perusahaan Galunggung Raya Block tahun 2002 – 2006 dalam setiap tahunnya mengalami peningkatan hasil yang diproduksi karena adanya penambahan jam kerja serta adanya pesanan-pesanan yang diterima sehingga volume produksi ikut meningkat.

Hasil penelitian menunjukkan secara bersama-sama variabel faktor produksi modal, tenaga kerja, bahan baku dan mesin berpengaruh signifikan terhadap produksi glycerine. Faktor produksi yang paling dominan adalah bahan baku.

Hasil penelitiannya adalah biaya bahan baku berpengaruh terhadap volume produksi sebesar 66,7%. biaya tenaga kerja berpengaruh terhadap volume produksi tungku sebesar 32,6%, dan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja berpengaruh secara bersama-sama terhadap volume produksi tungku di desa Braja Mulya Kecamatan Braja Selebah.
Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung berpengaruh secara signifikan terhadap hasil produksi tenun di Sentra industri Tenun ATBM Desa Pakumbulan Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. Artinya, semakin besar biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, maka semakin besar pula hasil produksi yang diperoleh. Biaya bahan baku yang paling dominan mempengaruhi hasil produksi.

Biaya bahan baku memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Penjualan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dengan nilai koefisien regresi positif sebesar 1,671.

Biaya tenaga kerja langsung memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap Penjualan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan nilai koefisien regresi negatif sebesar 5,633. Biaya overhead pabrik memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Penjualan dengan nilai signifikansi sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05 dengan nilai koefisien regresi positif sebesar 1,830. Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Penjualan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05.

Modal dan bahan baku berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap produksi pengrajin patung kayu di Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Jika modal dan bahan baku naik maka produksi pun ikut meningkat. Dan jika modal, bahan baku dan produksi meningkat akan dapat menyebabkan peningkatan pula pada pendapatannya. Modal dan bahan baku berpengaruh secara tidak langsung terhadap pendapatan melalui produksi dengan kata lain produksi merupakan variabel yang memediasi variabel modal dan bahan baku terhadap pendapatan pengrajin patung kayu di Kecamatan Sukawati Kabaupaten Gianyar.

Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa biaya bahan
baku tidak berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi. Sedangkan biaya tenaga kerja langsung berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi. Dan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung secara bersama-sama berpengaruh terhadap efisiensi biaya produksi. Dilihat dari sisi teknik analisis statistik nya sama -sama menggunakan pengujian hipotesis
1. Dalam penelitiannya sama-sama menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif.

2. Dilihat dari sisi teknik analisis statistik nya sama-sama menggunakan Uji Asumsi Klasik, Analisis Regresi Linier Berganda, dan Pengujian Hipotesis.

Dilihat dari teknik pengumpulan data nya yaitu sama-sama menggunakan teknik dokumentasi.

Dilihat dari teknik pengumpulan data nya yaitu sama-sama menggunakan teknik dokumentasi.

Dilihat dari sisi teknik analisis statistik nya sama-sama menggunakan Uji Asumsi Klasik, Analisis Regresi Linier Berganda, dan Pengujian Hipotesis.

Dilihat dari teknik pengumpulan data nya yaitu sama-sama menggunakan teknik dokumentasi.

Dilihat dari teknik pengumpulan data nya yaitu sama-sama menggunakan teknik dokumentasi.

1. Dilihat dari sisi teknik analisis statistik nya, penelitian menggunakan Uji Asumsi Klasik, Analisis Regresi Linier Berganda, dan Pengujian Hipotesis, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan Analisis Regresi Sederhana, Analisis Korelasi, Koefisien Determinasi.

2. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya di Perusahaan Galunggung Raya Block Tasikmalaya.
1. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya di PT. Flora Sawita Chemindo Medan.

2. Dilihat dari sisi teknik pengumpulan data nya, penelitian hanya menggunakan dokumentasi. Sedangkan dalam penelitian sebelumnya menggunakan wawancara langsung dan studi dokumentasi.
3. Dilihat dari segi variabel, penelitian ini hanya terdapat dua variabel bebas yaitu biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan dalam penelitian sebelumnya terdapat empat variabel bebas yaitu modal, bahan baku, tenaga kerja, dan mesin.

1. Dilihat dari data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu dari laporan keuangan perusahaan setiap tahunnya, sedangkan dalam penelitian sebelumnya data yang digunakan adalah laporan keuangan setiap bulannya.

2. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya di Perusahaan Tungku di Desa Mulya Kecamatan Braja Selebah.

1. Dari segi teknik pengumpulan datanya penelitian ini menggunakan dokumentasi yang berasal dari laporan keuangan perusahaan yang diteliti, sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan teknik dokumentasi yang berasal dari data pengrajin tenun ATBM Pakumbulan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Pekalongan. Selain teknik dokumentasi, juga menggunakan kuisioner.

2. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya di Sentra industri Tenun ATBM Desa Pakumbulan Kec` Buaran Kab. Pekalongan.

1. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya di CV Surya Pustaka Kediri.

2. Dilihat dari data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu dari laporan keuangan perusahaan setiap tahunnya, sedangkan dalam penelitian sebelumnya data yang digunakan adalah laporan keuangan setiap bulannya.

1. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian hanya teknik dokumentasi, sedangkan dalam penelitian sebelumnya menggunakan dokumentasi dan wawancara.

2. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya adalah pengrajin patung kayu di Kecamatan Sukawati Kabaupaten Gianyar.
1. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian hanya teknik dokumentasi, sedangkan dalam penelitian sebelumnya menggunakan dokumentasi, observasi dan wawancara.

2. Objek dalam penelitian ini yaitu di perusahaan makanan dan minuman, sedangkan penelitian sebelumnya adalah
pada PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (PERSERO).

2.2 Kerangka Pemikiran
Perusahaan manufaktur merupakan suatu perusahaan yang aktivitas utama nya adalah memproduksi suatu produk, baik itu dimulai dari proses barang mentah menjadi barang jadi maupun dari bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Barang yang telah selesai diproduksi tersebut kemudian akan dijual kepada konsumen dengan tujuan untuk memperoleh laba. Dalam proses produksi tersebut, perusahaan tentu saja akan melakukan suatu pengorbanan. Pengorbanan tersebut adalah dengan mengeluarkan biaya supaya proses produksi dapat berlangsung. Pengorbanan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan akan digunakan untuk dapat memperoleh faktor-faktor produksi seperti modal, bahan baku, tenaga kerja, dan teknologi. Dengan adanya faktor-faktor produksi sesuai dengan yang dibutuhkan, maka perusahaan dapat memulai proses produksi dan mencapai tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh keuntungan.
2.2.1 Hubungan Biaya Bahan Baku Terhadap Biaya Produksi
Menurut Sutrisno (2012), biaya bahan baku termasuk ke dalam salah satu biaya yang akan dikeluarkan oleh departemen produksi untuk untuk proses mengolah bahan baku menjadi barang barang jadi atau produk selesai. Berdasarkan konsep di atas, maka terdapat keterkaitan antara biaya bahan baku terhadap biaya produksi. Biaya bahan baku sendiri merupakan bagian dari komponen fisik produk, sehingga biaya bahan ini baku dapat dibebankan secara langsung kepada sebuah produk. Biaya bahan baku menjadi sebuah biaya yang harus ada didalam setiap kegiatan proses produksi didalam sebuah perusahaan. Maka dari itu perusahaan harus memperhatikan masalah biaya bahan baku ini, karena perencanaan biaya bahan baku dapat mengoptimalkan biaya yang akan dikeluarkan. Kelancaran arus dan harga atau biaya bahan baku akan berpengaruh secara langsung terhadap biaya produksi. Seperti dalam penelitian I Komang Suartawan dan I B Purbadharmaja (2017) yang menyatakan bahwa biaya bahan baku memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produksi. Sehingga apabila biaya bahan baku semakin tinggi maka biaya produksi pun akan ikut tinggi.
2.2.1 Hubungan Biaya Tenaga Kerja Langsung Terhadap Biaya Produksi
Tenaga kerja langsung menurut Sutrisno (2012), merupakan salah satu biaya yang akan dikeluarkan oleh departemen produksi di dalam sebuah perusahaan untuk mengolah bahan baku menjadi barang jadi atau produk selesai. Tanpa adanya tenaga kerja dalam proses produksi, maka aktivitas tersebut tidak dapat berjalan dan perusahaan tidak dapat mencapai tujuannya untuk memperoleh keuntungan atau laba. Tenaga kerja langsung ini adalah tenaga kerja yang terlibat langsung dalam proses produksi atau proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya yang dapat dibebankan secara langsung ke dalam suatu produk yang dihasilkan. Sehingga apabila terdapat perubahan yang terjadi seperti adanya kenaikan upah tenaga kerja langsung maka akan berdampak kepada naiknya biaya produksi. Seperti dalam penelitian Rani Rahman dan Yogi Daud Yusup Suseno yang menyatakan bahwa biaya tenaga kerja langsung memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produksi.

Berdasarkan penjelasan hal tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut :
14033586458X 1
Biaya Bahan Baku
X 1
Biaya Bahan Baku

167229712836800H1
3456940102137Y
Biaya Produksi
0Y
Biaya Produksi

124460282673X 2
Biaya Tenaga Kerja Langsung
X 2
Biaya Tenaga Kerja Langsung
167195515821300

H2
2.3 Hipotesis
Berdasarkan dari kerangka pemikiran yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Biaya bahan baku memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap biaya produksi
2. Biaya tenaga kerja langsung memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap biaya produksi
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Menurut Sugiyono (2010:13) objek penelitian adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu tentang sesuatu hal objektif, valid dan reliable tentang suatu hal (variabel tertentu).
Dalam penelitian ini, objek yang akan diteliti nya adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya produksi pada perusahaan makanan dan minuman periode tahun 2012-2016.

3.2 Metode Penelitian
3.2.1 Pendekatan yang Digunakan
Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif (descriptive). Menurut Sekaran (2017:111) pendekatan deskriptif adalah pendekatan yang digunakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data yang dapat menjelaskan karakteristik, baik itu orang, kejadian, maupun situasi yang sedang terjadi.
3.2.2 Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.2.1 Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2005: 72) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan  karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun populasi yang ada dalam penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman dengan periode penelitian dari tahun 2012-2016.

3.2.2.2 Sampel
Sampel menurut Sugiyono (2006: 118) merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Metode pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik
Adapun kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan yang akan diteliti adalah perusahaan makanan dan minuman dengan periode laporan keuangan dari tahun 2012-2016.

2. Data yang diambil dalam laporan keuangan periode tahun 2012-2016 memiliki kelengkapan data yang diperlukan dalam penelitian.

Berdasarkan dari kedua kriteria di atas, sampel yang didapat dalam penelitian ini adalah sebanyak 60 sampel dari laporan keuangan bulanan selama 5 tahun dari periode tahun 2012-2016.

3.2.3 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional variabel adalah pengertian variabel dalam konsep maupun definisi secara operasional, dan nyata dalam lingkup objek penelitian. Menurut Sugiyono (2012:59), “variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”. Adapun variabel yang terdapat dalam penelitian ini yaitu variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas (independent variable).

3.2.3.1 Variabel Terikat (Y)
Menurut Sugiyono (2012:59), “Variabel terikat atau dependent variable adalah variabel yang dipengaruhi data akibat karena adanya variabel bebas (independent)”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah biaya produksi. Dengan kata lain, variabel biaya produksi ini hasilnya akan dipengaruhi oleh variabel bebasnya yaitu biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

3.2.3.2 Variabel Bebas (X)

3.2.3.2.1 Biaya Bahan Baku
3.2.3.2.2 Biaya Tenaga Kerja Langsung
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Indikator Skala Pengukuran
Biaya Bahan Baku (X1)
(Efi, 2008; Tukasno, 2017; Nawang, 2011; Siti, 2017; I Komang, 2017) Jenis bahan baku utama yang digunakan dalam proses produksi serta jumlah dan harga satuannya Rasio
Biaya Tenaga Kerja Langsung (X2)
(Rani dan Yogi, 2008 ; Nawang, 2011; Siti, 2017; Sulis, 2014) Jumlah tenaga kerja dan upah tenaga kerja Rasio
Biaya Produksi (Y)
(Efi, 2008; Sulis, 2014) Biaya Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Overhead Rasio
3.2.4 Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Sumber data sekunder adalah data yang berasal tidak di dapat secara langsung dari objek yang ditelitinya, melainkan melalui perantara. Perantara data sekunder dalam penelitian ini yaitu berupa dokumen laporan keuangan perusahaan makanan dan minuman. Dokumen laporan keuangan tersebut terdiri dari :
1. Laporan laba rugi perusahaan periode tahun 2012-2016.

2. Laporan atau data pembelian bahan baku periode tahun 2012-2016.

3. Laporan atau data jumlah tenaga kerja langsung dan upah atau gaji tenaga kerja langsung.Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis di dalam sebuah penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi adalah teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan dengan cara mencari data-data yang berhubungan dengan variabel yang dimiliki dalam penelitian ini. Data yang digunakan berupa dokumen yang diperoleh dari laporan keuangan.

3.2.5 Teknik Analisis Data

DAFTAR PUSTAKA
Sugiyono, 2006. Statistik Untuk Penelitian. Cetakan Kesembilan, Penerbit CV. Alfabeta, Bandung.

Sugiyono, Prof, Dr, 2006.  Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan Ke-19. Bandung : Alfabeta