Abstract Western countries because they will always tend to

Abstract

As a country
with an advanced  economic growth, China
started to develop its economy to various countries, including Africa. A wide
range of economic cooperation are maintained by China  include export and import activities,
investments, infrastructure development grant and others. Economic cooperation
has been maintained successfully increase the volume of trade between China and
countries in Africa by 10 fold within 10 years and managed to shift the
position of the United States as the biggest trading partner of Africa. China
has a variety of interests in Africa such as for the expansion of export
markets, secure access to natural resources and energy, and oil in particular,
and  seek support in international
organizations. The various interests sought to be achieved by implementing
China’s non-intervention principle. China will not intervene against household
affairs of other countries and will not provide any interventions related to
domestic issues that occur. This is one thing  that can not be obtained when Africa cooperate
with Western countries because they will always tend to interfere the domestic
affairs of the household. So the application of the principle of
non-intervention as a diplomatic strategy is one of bargaining power and
strength for China, particularly in Africa.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

Keywords: Economic Cooperation, China –
Africa, Non-Intervention

 

 

Pendahuluan

            Kerjasama
internasional secara sederhana dapat dimaknai sebagai kerjasama yang dilakukan
oleh satu negara dengan negara lain, baik dengan tujuan untuk menjalin hubungan
baik ataupun saling membantu pemenuhan kebutuhan masing-masing negara.
Kerjasama internasional ini cenderung terjadi ketika suatu negara tidak mampu
memenuhi kebutuhannya sendiri karena kapabilitas negara yang berbeda-beda, sehingga
ia perlu bekerjasama dengan negara lain. Saat ini, kerjasama internasional
telah mempunyai cakupan yang luas mulai dari kerjasama internasional di bidang
ekonomi, keamanan, sosial, budaya, dan lain sebagainya. Dan dari sekian banyak
bidang yang ada, kerjasama ekonomi merupakan salah satu yang paling popular
diantaranya bidang yang lainnya.

            Kerjasama
ekonomi mempunyai berbagai bentuk dalam pengimplementasiannya. Misalnya,
dibentuknya perjanjian tertentu baik bilateral atapun multilateral yang
mengurangi atau bahkan menghilangkan hambatan perdagangan antar negara-negara
yang bekerja sama, membentuk free trade area, adanya investasi, penanaman modal
asing, dan sebagainya. Kerjasama ini tentunya bertujuan untuk mendorong dan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing negara, meskipun hal ini
seringkali atau bahkan selalu dibarengi dengan adanya kepentingan politik
dibalik kepentingan ekonomi tersebut.

            Ekonomi
merupakan sektor yang sangat penting, khususnya bagi negara seperti China. Sebagai
salah satu negara di kawasan Asia Timur dengan perekonomian yang semakin advance, China tentunya akan selalu berusaha
meningkatkan pertumbuhan ekonominya dengan menjalin berbagai kerjasama ekonomi
dengan negara lain. Kerjasama ekonomi yang dilakukan China ini cenderung
berorientasi ke negara berkembang seperti negara-negara yang ada di Afrika.
Afrika sendiri dilihat sebagai kawasan yang potensional oleh China karena
sumber daya alam yang dimilikinya. Berbagai kerjasama ekonomi yang dilakukan
China dengan negara-negara di Afrika dilakukan dengan strategi diplomatik untuk
membantu China dalam mencapai tujuannya, salah satunya dengan menerapkan
prinsip non-intervention.

 

Masuknya China ke
Afrika

            Masuknya
China ke Afrika pada awalnya dimulai tahun 1990an pada waktu terjadinya migrasi
besar-besaran dari China ke negara-negara di Afrika. Pada saat itu Guangdong,
Fujian dan Zheijiang merupakan sumber dari migran-migran tersebut, yang
kemudian berkembang sampai ke area kaum urban seperti Beijing, Tianjin, dan
Shanghai.1
Migrasi yang dilakukan China ini bertujuan untuk membentuk kerangka kerjasama
antara China dengan negara-negara dunia ketiga. Di tahun 1960an dan awal tahun
1980an, sebanyak 150.000 teknisi China dikirim ke Afrika untuk melaksanakan
proyek pengembangan agrikultur dan pembangunan infrastrukur transportasi
seperti jalan dan jalur kereta api untuk membentuk kerangka kerjasama tersebut.2 Secara keseluruhan, jumlah migran China di Afrika
mencapai 270.000 hingga 520.000 dengan 70.000 sampai 80.000 migran yang
dikontrak.3

            Migran
China yang masuk ke Afrika ini kemudian dikategorikan menjadi 3 jenis yaitu, temporary labor migrants, entrepreneurial
migrants, dan proletarian transit
migrants.4
Temporary labor migrants merupakan
migran sebagai pekerja sementara di perusahaan-perusahaan yang telah didirikan
China di Afrika dalam pengelolaan bahan mentah dan pembangunan infrastruktur.
Migran ini bersifat ‘kontraktual’ sesuai dengan framework yang telah dibentuk perusahaan. Jadi perusahaan China akan
mengimpor pekerja dari negaranya sendiri dan akan dipulangkan ketika kontrak
kerjanya telah berkahir. Sementara entrepreneurial
migrants adalah migran yang menjadi pengusaha dan umumnya menjadi pedagang
dari berbagai komunitas diaspora China. Studi mengenai pedagang-pedagang China
telah membuktikan bahwa mayoritas alasan migran China datang ke Afrika adalah
untuk tindakan komersil. Jarang diantara mereka yang sedari awal datang sebagai
pekerja sementara baru kemudian menetapkan diri sebagai pedagang setelah
beberapa tahun disana. Meskipun memang ada, tapi biasanya memang mayoritas
tujuan para migran sedari awal datang ke Afrika adalah untuk kepentingan
ekonomi. Dan untuk proletarian transit
migrants sendiri dimaknai sebagai migran yang transit sementara waktu untuk
mencari kesempatan menetap di Eropa atau Amerika Utara. Kelompok migran ini
biasanya merupakan mereka yang mencari pekerjaan dan menjual kemampuan bekerja
mereka ke negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa ataupun Amerika
Utara. Namun karena adanya perubahan kebijakan imigran di Eropa pada tahun
1970an dan membuat migrant China kesulitan untuk masuk kesana, akhirnya
memutuskan untuk transit terlebih dahulu ke Afrika karena Afrika memiliki jalur
imigrasi sub-Sahara Afrika yang lebih mudah diakses dan lebih murah
dibandingkan Eropa pada waktu itu. Terlepas dari apapun jenis migran tersebut,
masuknya migran China ke Afrika inilah yang kemudian mempelopori adanya berbagai
kerjasama yang diadakan antara China dan Afrika, termasuk didalamnya kerjasama
ekonomi.

Gambaran Umum
Kerjasama Ekonomi China – Afrika

            Dalam
beberapa dekade terakhir, China mulai mencoba berperan aktif dalam sistem
internasional dengan membuat kebijakan luar negerinya menjadi semakin dinamis
dan terbuka. Cara yang dilakukan China untuk mengupayakan peran aktifnya
tersebut adalah dengan semakin banyak melibatkan diri dalam organisasi regional
diluar kawasan, meningkatkan peran aktifnya dalam organisasi multilateral,
serta memperluas dan memperkuat kerjasama baik secara bilateral maupun
multilateral,.5
Kerjasama ini aktif dijalin China dengan negara berkembang seperti
negara-negara di Afrika. Kerjasama ini kemudian salah satunya berfokus di
bidang ekonomi.

            China
menjalin berbagai kerjasama ekonomi dengan negara-negara di Afrika mulai dari
adanya ekspor dan impor, investasi, bantuan pembangunan infrastruktur dan lain
sebagainya. Dari tahun ke tahun, volume perdagangan antara China dengan
negara-negara di Afrika terus mengalami peningkatan, yaitu sebesar 10 kali
lipat dalam kurun waktu 10 tahun dari $10.6 milyar pada tahun 2000 menjadi $106
milyar ditahun 2011 dan investasi yang mencapai $13 milyar.6
Angka yang sangat fantastis dalam peningkatan perdagangan antar negara. Selain
itu China juga telah telah mengoperasikan 2.500 proyek pembangunan, pekerja
sipil, dan proyek konstruksi senilai $94 milyar di 51 negara yang tersebar di
benua Afrika, dan kembali meningkatkan volume perdagangannya sampai ke angka $300
milyar di tahun 2015.7
Angka tersebut telah berhasil menggeser posisi Amerika Serikat dan menempatkan
China sebagai mitra dagang terbesar di Afrika saat ini.

            Komoditas
utama yang diekspor Afrika ke China adalah minyak, bahan baku, dan sumber daya
alam. China
memang sangat
membutuhkan komoditas seperti minyak dan bahan mineral dari negara-negara
Afrika. Adapun negara yang bekerja sama perdagangan dengan China adalah Angola
27,4% , Afrika Selatan 20,6% , Sudan 13,4% , Republik Kongo 9,8%, Guinea 6,3%,
Gabon 3,3%, Nigeria 3%, Algeria 1,7%, Maroko 1,7% dan Chad 1,2%.8
China turut mempengaruhi
permintaan global terhadap almunium, nikel dan tembaga sekitar 76% hingga 100%.
Selama tiga dekade terakhir, China juga meningkatkan konsumsi minyaknya sehingga hal ini
menimbulkan korelasi bahwa wajar bagi China untuk bekerja sama dengan negara-negara di Afrika
untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak dapat ia penuhi sendiri.

Kepentingan
China di Afrika

            Kerjasama
yang terjalin antara satu negara dengan negara lain tentunya tidak akan
terlepas dari kepentingan apa saja yang mungkin mempengaruhi terjadinya
kerjasama tersebut. Dalam kasus kerjasama ekonomi China dan Afrika, terdapat
berbagai kepentingan yang pada dasarnya memang merupakan kepentingan ekonomi
sampai kepada kepentingan yang berbau politis sekalipun. Atau bisa juga
kombinasi keduanya. China memang mempunyai kepentingan ekonomi untuk memperluas
pasarnya ke negara-negara Afrika. Tetapi lebih daripada itu, ada kepentingan
sumber daya alam dan energi yang terkait dengan masa depan China. Sebagai
negara dengan perindustian yang semakin berkembang pesat, China berpotensi
kehabisan sumber daya energi di beberapa tahun kedepan apabila hanya
mengandalkan pasokan yang berasal dari dalam negerinya. China kesulitan untuk membatasi
penggunaannya karena hal tersebut berkaitan dengan pengoperasian industri dalam
negeri, tetapi ia juga kebingungan untuk mencari sumber cadangan energi dari
mana apabila dari dalam negerinya habis. Sementara Afrika merupakan kawasan
dengan sumber daya alam dan energi yang sangat melimpah namun kekurangan
teknologi dalam pemanfaatan dan penggunaannya. Hal ini kemudian dilihat sebagai
peluang bagi China untuk memanfaatkan potensi tersebut dengan berbagai
kerjasama, investasi, dan transfer teknologi.

            Berkenaan
dengan kepentingan tersebut, China telah meningkatkan impor minyak dan
memperbanyak jumlah pemasok minyak dari Afrika. Pada tahun 2004, China dikabarkan
memiliki saham minyak sebanyak jumlah saham 11 negara Afrika, dan pada tahun
2006, salah satu produsen utama minyak lepas pantai China yaitu CNOOC setuju untuk membayar sejumlah $2.3 milyar
untuk 45% saham di ladang gas dan minyak Nigeria, yang kemudian menjadi salah
satu perolehan saham luar negeri paling besar dari negara ini.9
Namun untuk saat ini, jumlah paling besar untuk ekspor minyak dari negara
Afrika ke China disediakan oleh negara Angola dan Sudan.10
Keterlibatan China di kedua negara tersebut merupakan simbolisasi dari
pendekatan untuk mencapai kepentingan di atas. Pertama, hal ini menggarisbawahi
keterkaitan antara strategi politik, diplomatik dan ekonomi untuk mengamankan
pasokan minyak.11
Kedua, ini menunjukkan bahwa usaha China sering berfokus pada apa yang bisa disebut pasar
terbatas.12
Dari
sudut pandang China, negara-negara yang termasuk dalam
cakupan pasar terbatas dalam sektor minyaknya dicirikan dengan persaingan yang
terbatas, entah itu karena perusahaan multinasional dari Barat tidak memiliki
atau hanya memiliki akses terbatas karena ada alasan politik seperti embargo
(misalnya Sudan, Iran), dan / atau karena negara-negara tersebut merupakan
produsen minyak yang relatif baru muncul dan menawarkan peluang yang
signifikan.13
Penargetan negara-negara yang termasuk dalam pasar terbatas merupakan suatu
keputusan strategis untuk mengamankan cadangan minyaknya.

            Selain kepentingan untuk mengamankan
minyak di Afrika, dibalik semua kerjasama dan bantuannya yang diberikan, China
juga memiliki kepentingan politis didalamnya. Kepentingan politis ini berupa
pencarian dukungan terhadap China dalam organisasi internasional. Dengan
kerjasama yang semakin erat dan banyaknya bantuan yang telah diberikan China
kepada negara-negara di Afrika, diharapkan mereka akan memberikan vote untuk China di dalam organisasi
internasional. Sehingga ketika misalnya terjadi permasalahan yang terjadi
berkaitan dengan China dan telah dibawa sampai ke organisasi internasional,
maka dengan adanya dukungan dari negara-negara Afrika dengan sistem one country one vote dapat membantu
untuk mengamankan posisi China sendiri.

Prinsip Non-Intervention sebagai Strategi
Diplomatik China

            Pemerintah China
selalu menekankan komponen penting dalam kebijakan luar negeri independen China
untuk mengembangkan dan memperkuat hubungan persahabatan dan kerjasama dengan
negara-negara berkembang, termasuk negara-negara Afrika.14
Prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antara negara-negara China
dan Afrika yang diajukan oleh Perdana Menteri Zhou Enlai saat turnya ke Afrika
pada tahun 1960an masih berlaku sampai saat ini. Pada awal tahun 1980, para pemimpin
China
mengusulkan empat prinsip mengenai kerjasama ekonomi dan teknologi antar
negara-negara China dan Afrika, yaitu: kesetaraan dan
keuntungan bersama, penekanan pada hasil praktis, keragaman dalam bentuk, dan
pembangunan bersama.15

Keberadaan China yang diterima secara terbuka oleh pemimpin-pemimpin
Afrika mungkin dikarenakan hubungan sejarah yang baik antara Sino-African. Hal
tersebut merupakan elemen yang paling menonjol dalam masa sekarang. China menawarkan diri kepada Afrika
sebagai rekan dalam perpaduan kerjasama politik dan ekonomi dimana hal tersebut
sukses membawa pesan bahwa hubungan Sino-African akan mendapatkan hasil “win-win solutions” untuk kedua pihak.16
Kemunculan China
di Afrika bukan hanya sebagai alternative
partner dari hubungan Afrika dengan Barat, namun juga dirasa sebagai
pilihan terbaik untuk Afrika.

Selain karena dari
faktor sejarah yang baik, hal terpenting yang membuat Afrika
sangat membuka diri terhadap China
adalah
karena China
sangat berpegang teguh terhadap dogma kedaulatan nasional, yang sangat menolak
untuk mencampuri urusan rumah tangga negara lain (prinsip non-intervention).17
Kebijakan Donor China
tidak
melihat kondisi politik negara yang akan menerima bantuan pembangunannya. Jadi China tidak melihat apakah negara tersebut
otoriter atau tidak atau bahkan berkeinginan untuk merubah ideologi negara.
Sebaliknya, negara-negara Barat sangat memperhatikan hal-hal tersebut yang pada
akhirnya mendorong munculnya intervensi. Barat sempat mengagendakan reformasi
pada Afrika seperti Strucktural
Adjustment Program (SAP) pada
tahun 1980an dan diikuti pada tahun 1990an untuk menuntut reformasi demokratis.

Tidak heran jika kemudian negara-negara di Afrika
lebih memilih untuk bekerjasama dengan China. Negara-negara di Afrika lebih suka
bekerja sama dengan negara yang tidak terlalu banyak mencampuri urusan dalam
negerinya, dan China melakukan hal tersebut. Prinsip non-intervention yang dianut China ini membuatnya tidak mau ikut
campur tangan dalam masalah-masalah politik ataupun hak asasi manusia yang
terjadi di Afrika. Ketika bekerjasama di 
bidang ekonomi, maka hanya sektor ekonomi lah yang menjadi perhatian dan
fokus  China, tanpa memiliki keinginan
untuk mencampuri urusan politik domestik negara tersebut apalagi sampai
memberikan intervensi..

            Dalam
pengimplementasiannya, meskipun terjadi berbagai permasalahan domestik, China
tidak akan ikut campur dan membiarkan negara partner kerjasamanya tersebut
menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa memberikan intervensi apapun. Sangat
bertolak belakang ketika mereka bekerja sama dengan negara-negara Barat.
Negara-negara Barat seperti misalnya Amerika Serikat sendiri akan menuntut
banyak hal, meskipun sebenarnya mereka tidak bekerja sama di bidang tersebut.
Yang paling kurang disukai dari negara Barat adalah ketika mereka menuntut atau
memprotes pemerintahan di Afrika yang dianggap masih otoriter dan menuntut
terkait pelanggaran hak asasi manusia yang masih banyak terjadi di Afrika.
Prinsip non-intervention ini kemudian
menjadi salah satu senjata China untuk dapat memperoleh ‘akses yang lebih
mudah’ dalam kerjasamanya dengan negara-negara di Afrika. Prinsip ini juga yang
menjadi strategi bagi China untuk bisa mempertahankan hegemoninya dikawasan
Afrika. Pemerintah dari negara-negara di Afrika cenderung lebih welcome kepada China karena mereka
merasa bahwa negaranya tidak akan terancam kestabilan politik domestiknya, karena
China tidak akan mengintervensi hal tersebut. Berbeda ketika mereka ingin
bekerjasama dengan negara Barat dimana biasanya yang seringkali terjadi adalah
munculnya rasa insecure karena negara
Barat cenderung terlalu mengintervensi, apalagi terkait masalah kemanusiaan. Sedangkan
di Afrika sendiri masih sangat tinggi permasalahan kemanusiaan yang terjadi,
sehingga ketika mereka bekerjasama dengan negara Barat maka kestabilan politik
domestiknya cenderung akan terganggung sebab negara Barat akan menuntut hal
tersebut dan memberikan intervensi. Hal ini yang kemudian sampai saat ini
membuat negara-negara di Afrika lebih memilih untuk bekerja sama dengan China
ketimbang negara-negara Barat karena prinsip non-intervention yang telah dianut oleh China. Prinsip ini kemudian
menjadi strategi yang paling ampuh diterapkan untuk membuat China diterima di
Afrika dan membuat China  bisa mencapai
kepentingan-kepentingannya.

 

Kesimpulan

            Masuknya
China ke Afrika berawal sejak tahun 1990an
pada waktu terjadinya migrasi besar-besaran dari China ke negara-negara di
Afrika. Migrasi ini bertujuan untuk membentuk kerangka kerjasama antara China
dengan negara-negara dunia ketiga yang kemudian menjadi pintu masuk
keterlibatan China dikawasan Afrika. Berbagai kerjasama ekonomi yang dijalin
oleh China dengan negara-negara di Afrika meliputi kegiatan ekspor dan impor,
investasi, pemberian bantuan pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya.
Kerjasama ekonomi yang dijalin telah berhasil meningkatkan volume perdagangan
antara China dengan negara-negara di Afrika sebesar 10 kali lipat dalam kurun
waktu 10 tahun dan berhasil menggeser posisi Amerika Serikat sebagai mitra
dagang terbesar Afrika. Dalam berbagai kerjasama yang antara China dan Afrika,
China memiliki berbagai kepentingan baik untuk perluasan pasar ekspor,
mengamankan akses terhadap sumber daya alam dan energi khususnya minyak, dan
mencari dukungan dalam organisasi internasional. Berbagai kepentingan tersebut
berusaha dicapai China dengan menerapkan strategi melalui prinsip non-intervention untuk bisa diterima di
Afrika dan mempermudah China dalam mencapai kepentingannya. Prinsip ini
merupakan prinsip dimana China tidak akan ikut campur terhadap urusan rumah
tangga negara lain dan tidak akan memberikan intervensi apapun terkait dengan
berbagai permasalahan domestik yang terjadi. Ini lah yang tidak bisa didapatkan
Afrika ketika bekerjasama dengan negara-negara Barat karena mereka akan selalu
cenderung ikut campur urusan rumah tangga domestik. Sehingga penerapan prinsip non-intervention sebagai strategi
diplomatik merupakan salah satu daya tawar dan kekuatan tersendiri bagi China
khususnya terhadap negara-negara di Afrika.

 

1 Emmanuel Ma Mung, “Chinese Migration and China’s Foreign Policy
in Africa”, Journal of Chinese Overseas, Vol. 4, No. 1 (May 2008): 91-109.

2 Ibid.

3 Ibid.

4 Emmanuel Ma Mung, “Chinese Migration and China’s Foreign Policy
in Africa”, Journal of Chinese Overseas, Vol. 4, No. 1 (May 2008): 91-109.

5 Denis M. Tull, “China’s Engagement in Africa: Scope,
Significance, and Consequences”, Journal of Modern African Studies, Vol.
44, No. 3 (2006): 459-479.

6 The Guardian, “China’s Booming Trade with Africa Helps Tone
Its Diplomatic Muscle”, diakses dari https://www.theguardian.com/world/2012/mar/22/chinas-booming-trade-africa-diplomatic
pada 18 Desember 2017.

7 Paul Nantulya, “Pursuing
the China
Dream Trought Africa: Five Element of China Africa Strategy”, Africa Center For Strategic Studies,
diakses dari https://africacenter.org/spotlight/China-dream-five-elements-China-africa-strategy/ pada 18 Desember 2017.

8 Denis M. Tull, “China’s Engagement in Africa: Scope,
Significance, and Consequences”, Journal of Modern African Studies, Vol.
44, No. 3 (2006): 459-479.

9 Denis M. Tull, “China’s Engagement in Africa: Scope,
Significance, and Consequences”, Journal of Modern African Studies, Vol.
44, No. 3 (2006): 459-479.

10 Ibid.

11 Ibid.

12 Ibid.

13Denis M. Tull, “China’s Engagement in Africa: Scope,
Significance, and Consequences”, Journal of Modern African Studies, Vol.
44, No. 3 (2006): 459-479.

14
Ministry Of Foreign Affairs of the People’s Republic of China,  “China Policy Towards Africa”, diakses dari http://www.fmprc.gov.cn/ce/ceza/eng/zghfz/zfgx/t165330.htm pada tanggal 18 Desember 2017.

15Ministry of Foreign Affairs of The People’s
Republic of China., Loc.Cit.

16Denis M. Tull, “China’s Engagement in Africa: Scope,
Significance, and Consequences”, Journal of Modern African Studies, Vol.
44, No. 3 (2006): 459-479.

17 Ibid.